MAKALAH MATA KULIAH
PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN BAHASA INDONESIA
“WACANA DAN PENGGOLONGANNYA”
Oleh
Kelompok 3 (Tiga)
1.
Noviyani 02011181621110
2.
Ratih
Risdiana 02011181621113
3.
Mega
Fitriani 02011181621108
4.
Nutria
Vionita 02011181621129
5.
Anggun
perwitasari FH 02011181621099
Dosen Pengasuh: Yenni
Linyawati, M.Pd.
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2017
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat yang dilimpahkannya sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Dan harapan kami semoga makalah ini
dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, untuk kedepannya
dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik
lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan
maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini,
oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Indralaya, Maret 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................................................
2
Daftar Isi
.............................................................................................................................
3
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang Masalah
.............................................................................................
4
1.2
Rumusan
Masalah ........................................................................................................
5
1.3
Tujuan
Penulisan ..........................................................................................................
5
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Wacana ......................................................................................................
6
2.2 Bentuk-bentuk Wacana ...............................................................................................
8
2.3 Fungsi Wacana ............................................................................................................
13
2.4 Tujuan Wacana ...........................................................................................................
14
2.5 Analisis
Wacana ..........................................................................................................
14
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
..................................................................................................................
18
3.2 Kritik dan Saran
.........................................................................................................
18
3.3 Daftar Pustaka
.............................................................................................................
20
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Istilah wacana berasal dari kata sansekerta yang
bermakna ucapan atau tuturan. Kata wacana adalah salah satu kata yang banyak
disebut seperti halnya demokrasi, hak asasi manusia, dan lingkungan hidup.
Seperti halnya banyak kata yang digunakan, kadang-kadang pemakai bahasa tidak
menegtahui secara jelas apa pengertian dari kata yang digunakan tersebut. Ada
yang mengartikan wacana sbagai unit bahasa yang lebih besar dari kalimat. Kata
wacana juga banyak dipakai oleh banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi,
sosiologi, politik, komunikasi, astra dan sebagainya. Pembahasan wacana
berkaitan erat dengan pembahasan keterampilan berbahasa terutama keterampilan
berbahasa produktif, yaitu berbicara dan menulis. Baik wacana maupun
keterampilan berbahasa, sama-sama menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi.
Wacana
berkaitan dengan unsur intralinguistik (internal bahasa) dan unsur
ekstralinguistik yang berkaitan dengan proses komunikasi seperti seperti
interaksi social (konversasi dan pertukaran) dan pengembangan tema (monolog dan
paragraf). Realitas wacana dalam hal ini adalah eksistensi wacana yang berupa
verbal dan nonverbal. Rangkaian kebahasaan verba atau language exist (kehadiran
kebahasaan) dengan kelengkapam struktur bahasa, mengacu pada struktur apa adanya;
nonverbal atau language likes mengacu pada wacana sebagai rangkaian nonbahasa
(rangkaian isyarat atau tanda-tanda yang bermakna). Wujud wacana sebagai media
komunikasi berupa rangkaian ujaran lisan dan tulis. Sebagai media komunikasi
wacana lisan, wujudnya dapat berupa percakapan atau dialog lengkap dan
penggalan percakapan. Wacana dengan media komuniasi tulis dapat berwujud sebuah
teks, sebuah alinea, dan sebuah wacana. Berdasarkan uraian diatas, betapa
pentingnya apa itu wacana dan memahami nya supaya tidak terjadinya kesalah
pahaman dalam pengertian wacana, maka dari itu kami membahas topik mengenai
wacana dan penggolongannya. [1]
1.2
Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan kami bahas dalam penulisan makalah “Wacana dan Penggolongannya” masih
dalam ruang lingkup wacana secara umum dan belum terlalu mendetai, misalnya
pengertian, bentuk-bentuk, fungsi, tujuan dan analisis wacana secara umum. Berdasarkan uraian-uraian tersebut
diatas, maka rumusan masalah yang akan dibahas penulis ialah sebagai berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan wacana?
2. Apa saja bentuk-bentuk wacana?
3. Apa saja fungsi
wacana?
4. Apa saja tujuan
wacana?
5. Bagaimana analisis Wacana?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan
dari makalah ini sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud
dengan wacana.
2. Untuk mengetahui apa saja
bentuk-bentuk wacana
3. Untuk
mengetahui apa saja fungsi wacana
4. Untuk
mengetahui apa saja tujuan wacana
5. Untuk mengetahui bagaimana analisis
wacana.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Wacana
Menurut
Hawthorn (1992) wacana adalah komunikasi kebahasaan yang terlihat sebagai
sebuah pertukaran di antara pembicara dan pendengar, sebagai sebuah aktivitas
personal di mana bentuknya ditentukan oleh tujuan sosialnya. Sedangkan Roger
Fowler (1977) mengemukakan bahwa wacana adalah komunikasi lisan dan tulisan
yang dilihat dari titik pandang kepercayaan, nilai, dan kategori yang termasuk
di dalamnya. Foucault memandang wacana kadang kala sebagai bidang dari semua
pernyataan, kadang kala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan
kadang kala sebagai sebuah praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah
pernyataan.
Pendapat lebih
jelas lagi dikemukakan oleh J.S. Badudu (2000) yang memaparkan;
wacana sebagai rentetan kalimat yang berkaitan
dengan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya,
membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara
kalimat-kalimat itu. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa wacana merupakan
kesatuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau
klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan,yang mampu
mempunyai awal dan akhir yang nyata,disampaikan secara lisan dan tertulis.
Sementara itu
Samsuri memberi penjelasan mengenai wacana, menurutnya; wacana ialah
rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi, biasanya terdiri
atas seperangkat kalimat yang mempunyai hubungan pengertian yang satu dengan
yang lain. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat pula
memakai bahasa tulisan.
Lull (1998)
memberikan penjelasan lebih sederhana mengenai wacana, yaitu cara objek atau
ide diperbincangkan secara terbuka kepada publik sehingga menimbulkan pemahaman
tertentu yang tersebar luas. Mills (1994) merujuk pada pendapat Foucault
memberikan pendapatnya yaitu wacana dapat dilihat dari level konseptual
teoretis, konteks penggunaan, dan metode penjelasan.
Berdasarkan
level konseptual teoretis, wacana diartikan sebagai domain dari semua
pernyataan, yaitu semua ujaran atau teks yang mempunyai makna dan mempunyai
efek dalam dunia nyata. Wacana menurut konteks penggunaannya merupakan
sekumpulan pernyataan yang dapat dikelompokkan ke dalam kategori konseptual
tertentu. Sedangkan menurut metode penjelasannya, wacana merupakan suatu
praktik yang diatur untuk menjelaskan sejumlah pernyataan.
Dari uraian di
atas, jelaslah terlihat bahwa wacana merupakan suatu pernyataan atau rangkaian
pernyataan yang dinyatakan secara lisan ataupun tulisan dan memiliki hubungan
makna antarsatuan bahasanya serta terikat konteks. Dengan demikian apapun
bentuk pernyataan yang dipublikasikan melalui beragam media yang memiliki makna
dan terdapat konteks di dalamnya dapat dikatakan sebagai sebuah wacana.[2]
Selain itu, wacana memiliki ciri-ciri tersendiri yaitu sebagai berikut.
1.
Satuan gramatikal
2.
Satuan terbesar, tertinggi, atau
terlengkap
3.
Untaian kalimat-kalimat
4.
Memiliki hubungan proposisi
5.
Memiliki hubungan kontinuitas,
berkesinambungan
6.
Memiliki hubungan koherensi
7.
Memiliki hubungan kohesi
8.
Rekaman kebahasaan utuh dari
peristiwa komunikasi
9.
Bisa transaksional juga
interaksional
10. Medium bisa lisan maupun tulis
11. Sesuai dengan konteks
2.2
Bentuk-bentuk Wacana
1.
Berdasarkan
jenis wacana dapat ditinjau dari media yang digunakan atau tertulis tidaknya
:
·
Wacana lisan: wacana yang
disampaikan dengan media lisan, secara lisan.
·
Wacana tulis: wacana yang
disampaikan secara tertulis, melalui media tulis.
2.
Berdasarkan
sifatnya
·
Wacana transaksional (jika yang
dipentingkan isi komunikatif) contoh: Pidato, Ceramah, Makalah, Cerita, Tesis.
·
Wacana interaksional (jika
merupakan komunkasi timbale balik) contoh: Pecakapan, Debat, Diskusi,
Surat-menyurat.
3. Berdasarkan langsung atau tidak langsungnya
(Kridalaksana 1984 : 208)
·
Wacana
langsung: Kutipan wacana yang
sebenarnya dibatasi oleh intonasi atau pungtuasi.
- Wacana tidak langsung: pengungkapan kembali wacana tanpa mengutip harfiah kata-kata yang dipakai oleh pembicara dengan mempergunakan konstruksi gramatikal atau kata tertentu. Antar lain dengan kalusa subordinatif, bahwa.
4. Wacana prosa,
puisi, dan drama
·
Wacana prosa: Wacana yang disampaikan dalam
bentuk prosa. Wacana prosa ini dapat tertulis
atau lisan, langsung atau tidak langsung.
·
Wacana puisi: wacana yang disampaikan dalam
bentuk puisi baik secara lisan maupun tulisan.
·
Wacana drama: wacana yang disampaikan dalam
bentuk drama, dalam bentuk dialog tertulis maupun lisan.
5.
Dari segi Penutur (Jumlah Penutur)
·
Wacana monolog: melibatkan seorang penutur.
Dalam wacana monolog hanya terdapat peran tunggal pada diri pelaksana wacana
yaitu peran penyapa (speaker) dan pesapa (addresse), tanpa ada pergntian dari
peran satu ke yang lain. Contoh: Pidato kenegaraan presiden, Pengumuman resmi
pemerintah, dan Ceramah-ceramah tidak diikuti diskusi.
·
Wacana dialog: wacana dialog melibatkan dua
orang penutur, yang secara pergantian atau bergiliran bias berperan ganda,
yaitu sebagai penyapa dan sebagai pesapa.
·
Wacana polilog: wacana yang melibatkan
pelaku wacana lebih dari dua orang. Dalam wacana polilog ini juga terjadi
pertukaran informasi karena setiap pelaku pada wacana ini memiliki peran ganda
secara bergantian.
6.
Berdasarkan cara pemaparannya
·
Wacana naratif: rangkaian tuturan yang
menceritakan atau menyajikan melalui penonjolan tokok pelaku dengan maksud
memperluas pengetahuan pesapa. Kekuatan wacana ini terletak pada urutan cerita
berdasarkan waktu dan cara-cara berita yang diatur melalui plot.
·
Wacana Prosedural: rangkaiantuturan yang
melukiskan sesuatu secara beruntun yang tidak boleh dibolak-balik unsurnya,
karena urgensi unsure yang lebih dahulu menjadi landasan unsure berikutnya.
·
Wacana Hotatori: tuturan yang isinya
bersifat ajakan atau nasihat. Kadang tuturan itu bersifat memperkuat keputusan
agar lebih meyakinkan. Sedangkan tokoh didalamnya adalah orang kedua (pesapa).
·
Wacana Ekspositori: rangkaian tuturan yang
bersifat memparkan suatu pokok pikiran dengan cara menyampaikan uraian nagin-bagian
detailnya. Tujuan pokoknya adalah tercapainya tigkat pemahaman akan sesuatu itu
supaya lebih jelas, mendalam, dan luas. Kadang-kadang wacana ini berbentuk
ilustrasi contoh: perbandingan uraian secara kronologis.
·
Wacana Deskripsi: rangkaian tuturan yang
memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu baik berdasarkan pengalaman maupun
pengetahuan penuturnya. Tujuan yang ingin dicapai oleh wacana deskripsi adalah
tercapaina penghayatan yang agak imajinaif terhadap sesuatu sehingga pesapa
merasakan seolah-olah ia sendiri mengalami atau mengetahuinya secara langsung.[3]
7.
berdasarkan tujuan penggolongan wacana
·
Deskripsi
Deskripsi adalah menggambarkan suatu
objek yang ingin ditulis dengan jelas. Deskripsi salah satu bentuk dari wacana
yang berusaha menyampaikan sesuatu yang telah didapat dan dituangkan kedalam
sebuah tulisan sedemikian rupa nyata seperti keadaan sebenarnya. Agar
seolah-olah apa yang ingin disampaikan oleh penulis berada didepan mata kepala
pembaca. Seakan-akan pembaca melihat sendiri keadaan seperti apa yang ingin
disampaikan penulis.
·
Eksposisi
Eksposisi dapat terbentuk menjadi
argumentasi dan deskripsi. Eksposisi yang lebih cenderung menekankan pembuktian
dari sebuah penalaran, mempengaruhi pembaca dengan data-data yang lengkap,
berkeinginan mengubah pandangan pembaca agar menerima pendapat dari apa yang
penulis tuliskan, maka eksposisi lebih khusus mengarah kepada argumentasi.
Sedangkan eksposisi yang lebih cenderung menekankan kepada perincian atau
secara mendetail menjelaskan sebuah peristiwa seolah-olah seperti benar-benar
tergambar dengan jelas dibenak pembaca maka eksposisi itu lebih mengarah kepada
deksripsi. Eksposisi yang sebenarnya adalah hanya sebatas memaparkan sesuatu
hal atau peristiwa yang tujuannya hanya menambah wawasan dari para pembaca.
·
Argumentasi
Argumentasi adalah suatu bagian dalam
penulisan yang menjelaskan atau mengemukakan pendapatnya dengan disertai
beberapa alasan yang dapat meyakinkan pembaca. Penulis harus menganalisis dan
menjelaskan suatu permasalahan yang ditulis secara terperinci dan mendalam agar
pembaca dapat mempercayai pendapat penulis. Selain itu, harus disertakan alasan-alasan
yang dapat dibuktikan atau didukung dengan bukti-bukti yang benar-benar
meyakinkan. Argumentasi dapat berupa pendapat sendiri yang didukung dengan
bukti dan alasan agar pembaca benar-benar percaya. Serta dapat dilakukan dengan
suatu proses penalaran dalam melakukan argumentasi.
·
Persuasi
Persuasi merupakan suatu bagian yang dimana pada penulisannya untuk
meyakinkan pembaca agar mempercayai penulis dan melakukan sesuatu yang
dikehendaki oleh penulis. Pada intinya penulis mengajak pembaca untuk mempercayai
dan turut melakukan apa yang dikehendaki oleh penulis.
Ciri-ciri
persuasi :[4]
a. Harus menimbulkan kepercayaan
pendengar/pembacanya.
b. Bertolak atas pendirian bahwa
pikiran manusia dapat diubah.
c. Harus menciptakan persesuaian
melalui kepercayaan antara. pembicara/penulis dan yang diajak
berbicara/pembaca.
d. Harus menghindari konflik agar
kepercayaan tidak hilang dan tujuan tercapai.
e. Harus ada fakta dan data
secukupnya.
·
Narasi
Narasi adalah bagian dalam suatu penulisan yang
bertujuan untuk menyampaikan atau mencerikan sebuah rangkaian peristiwa dari
waktu ke waktu dengan urutan awal, tengah, dan akhir.
Jenis-jenis
narasi[5]
Ø
Narasi Informatif
Narasi informatif
adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang
suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah
seseorang.
Ø Narasi Ekspositorik
Dalam narasi
ekspositorik, penulis menceritakan suatu peristiwa berdasarkan data yang
sebenarnya. Pelaku yang ditonjolkan biasanya, satu orang. Pelaku diceritakan
mulai dari kecil sampai saat ini atau sampai terakhir dalam kehidupannya.
Karangan narasi ini diwarnai oleh eksposisi, maka ketentuan eksposisi juga
berlaku pada penulisan narasi ekspositorik. Ketentuan ini berkaitan dengan
penggunaan bahasa yang logis, berdasarkan fakta yang ada, tidak memasukan
unsursugestif atau bersifat objektif.
Ø
Narasi
Artistik
Narasi artistik adalah
narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu
amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak
seolah-olah melihat. Ketentuan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa yang
logis, berdasarkan fakta yang ada, tidak memasukan unsur sugestif atau bersifat
objektif.
Ø
Narasi
Sugestif
Narasi sugestif adalah
narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu
amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak
seolah-olah melihat.
2.3 Fungsi Wacana
Menurut pendapat Leech (1974, dalam Kushartanti dan Lauder, 2008:91)
tentang fungsi bahasa, wacana dapat diklasifikasi sebagai berikut.[6]
1.
Wacana ekspresif, apabila wacana
itu bersumber pada gagasan penutur atau penulis sebagai sarana ekspresif,
seperti wacana pidato.
2.
Wacana fatis,
apabila wacana itu bersumber pada saluran untuk memperlancar komunikasi,
seperti wacana perkenalan dalam pesta.
3.
Wacana
informasional, apabila wacana itu bersumber pada pesan atau informasi, seperti
wacana berita dalam media massa.
4.
Wacana estetik, apabila wacana
itu bersumber pada pesan dengan tekanan keindahan pesan, seperti wacana puisi
dan lagu.
5.
Wacana direktif, apabila wacana
itu diarahkan pada tindakan atau reaksi dari mitra tutur atau pembaca, seperti
wacana khotbah.
2.4 Tujuan
Wacana
Sudah barang
tentu dalam mempelajari sesuatu pasti memiliki maksud dan tujuan tersendiri.
Sedangkan dalam mempelajari wacana hal-hal yang ingin dicapai ialah sebagai
berikut.
1.
Membantu masyarakat untuk
memahami berbagai permasalahan yang terjadi didalam kehidupan dan juga
sekaligus untuk mencari sebuah solusi dalam menghadapi sebuah permasalahan.
2.
Sebagai bahan pertimbangan untuk
menentukan sebuah langka yang akan diambil setelah melihat-lihat fakta yang
berkembang didalam masyarakat.
3.
Kajian wacana dapat menggunakan
berbagai fakta, idealisme yang tersirat maupun yang sersurat didalam sebuah
wacana guna mengetahui maksud dan tujuan pemulis dalam sebuah wacana yang lebih
mengedepankan pembaca untuk berfikir kritis.
4.
Membongkar nilai-nilai yang
terkandung didalan sebuah wacana, karena didalam sebuah wacana terkandung
kebenaran yang sebenarnya, bukan sekedar kamuflase permainan kata seperti
didalam sebuah puisi.
5.
Kajian wacna memungkinkan
menganalisis fenomena-fenomena yang terjadi dilingkungan sekitar dari berbagai
sudut pandang.
2.5 Analisis Wacana
Analisis wacana adalah ilmu baru yang
muncul beberapa puluh tahun belakangan ini. Aliran-aliran linguistik selama ini
membatasi penganalisisannya hanya kepada soal kalimat dan barulah belakangan
ini sebagian ahli bahasa memalingkan perhatiannya kepada penganalisisan wacana.
Analisis wacana lahir dari kesadaran bahwa persoalan yang terdapat dalam komunikasi bukan terbatas pada penggunaan kalimat
atau sebagian kalimat, fungsi ucapan, tetapi juga mencakup struktur pesan yang
lebih kompleks dan inheren yang disebut wacana. Di Indonesia, ilmu tentang
analisis wacana baru berkembang pada pertengahan 1980-an, khususnya berkenaan
dengan menggejalanya analisis di bidang antropologi, sosiologi, dan ilmu
politik.[7]
Menurut Maingueneau, l'analyse de discours
est l'analyse de l'articulation du texte et du lieu social dans lequel il est
produit (Maingueneau dalam http://www.lang.osaka-u.ac.jp/~benoit/fle/conferences/maingueneau.html).
Analisis wacana adalah analisis hubungan antar unsur-unsur wacana di dalam teks
dan latar sosial dimana teks tersebut dibuat. Analisis wacana merupakan
disiplin ilmu yang berusaha mengkaji penggunaan bahasa dalam tindak komunikasi.
Seperti yang diungkapkan Stubbs bahwa analisis wacana adalah suatu kajian yang
meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam
bentuk tulis maupun lisan. Penggunaan bahasa secara alamiah ini berarti
penggunaan bahasa seperti dalam
komunikasi sehari-hari (Stubbs dalam Arifin & Rani, 2000 : 8).
Sejalan dengan Stubbs, Sobur (2006 : 48) menjelaskan analisis wacana sebagai studi
tentang struktur pesan dalam komunikasi atau telaah mengenai aneka fungsi
(pragmatik) bahasa.
Kartomihardjo (1993 : 21) menyatakan bahwa
analisis wacana merupakan cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk
menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar dari pada kalimat dan lazim
disebut wacana. Lebih lanjut Kartomihardjo menyatakan bahwa analisis wacana
berusaha mencapai makna yang persis sama atau paling tidak sangat dekat dengan
makna yang dimaksud oleh pembicara dalam wacana lisan atau oleh penulis dalam
wacana tulisan. Analisis wacana itu mengkaji hubungan bahasa dengan konteks
penggunaannya. Untuk memahami sebuah wacana perlu diperhatikan semua unsur yang
terlibat dalam penggunaan bahasa tersebut. Unsur yang terlibat dalam penggunan
bahasa ini disebut konteks dan koteks. Konteks mencakup segala hal yang ada
dilingkungan penggunaan bahasa. Selanjutnya, koteks merupakan teks yang
mendahului atau mengikuti sebuah teks. Dengan demikian, mengkaji wacana sangat
bermanfaat dalam mengkaji makna bahasa dalam penggunaan yang sebenarnya (Arifin
& Rani, 2000 : 14).
Samsuri menguraikan beberapa aspek yang
berkaitan dengan kajian wacana. Aspek-aspek tersebut adalah (a) konteks wacana,
(b) topik, tema dan judul wacana, (c) kohesi dan koherensi wacana (d) referensi
dan inferensi wacana. Konteks wacana yang membantu memberikan penafsiran
tentang makna ujaran adalah situasi wacana. Situasi mungkin dinyatakan secara
eksplisit dalam wacana, tetapi dapat pula disarankan oleh berbagai unsur wacana,
yang disebut ciri-ciri (wacana) atau koordinat-koordinat (wacana), seperti
pembicara, pendengar, waktu, tempat, topik, bentuk amanat, peristiwa, saluran
dan kode) (Samsuri dalam Arifin & Rani, 2000 : 13). Sejalan dengan
aspek-aspek di atas maka analisis wacana dapat dilakukan dengan dua pendekatan
atau dianalisis melalui dua arah, yakni dari teks itu sendiri dengan pendekatan
mikrostruktural dan dari luar teks atau dari konteksnya dengan pendekatan
makrostruktural.
Pendekatan Mikrostruktural adalah analisis wacana menitik beratkan pada kohesi
tekstualnya, yaitu untuk mengungkapkan urutan kalimat yang dapat membentuk
sebuah wacana menjadi koheren. Seperti juga halnya bahasa, maka wacana pun
mempunyai bentuk dan makna. Kohesi dan koherensi adalah dua unsur yang
menyebabkan sekelompok kalimat membentuk kesatuan makna.. Kepaduan makna dan
kerapian bentuk merupakan faktor penting untuk menentukan tingkat keterbacaan
dan keterpahaman wacana. Kepaduan (kohesi) dan kerapian (koherensi) merupakan
unsur penting yang menentukan keutuhan wacana. Dalam kata kohesi tersirat
pengertian kepaduan, sedangkan pada kata koherensi terkandung pengertian
pertalian dan hubungan. Jika kita
kaitkan dengan aspek bentuk dan makna, dapat kita katakan bahwa kohesi mengacu
kepada aspek formal bahasa, sedangkan koherensi mengacu pada aspek ujaran.
Pendekatan Makrostruktural adalah, analisis
wacana menitikberatkan pada garis besar susunan wacana itu secara global
untuk memahami teks secara keseluruhan.
Disamping memperhatikan keterkaitan antarepisode dan paragraf, juga
dipertimbangkan pelatarbelakangan (background) dan pelatardepanan (foreground).
Pendekatan makrostruktural dapat meliputis struktur tekstual, sistem leksis,
dan konteks. Jika dalam pendekatan mikrostruktural konteks berupa konteks
linguistik, maka yang dimaksudkan konteks secara makrostruktural adalah konteks
situasi dan budaya[8].
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
wacana merupakan suatu pernyataan atau rangkaian
pernyataan yang dinyatakan secara lisan ataupun tulisan dan memiliki hubungan
makna antarsatuan bahasanya serta terikat konteks. Dengan demikian apapun
bentuk pernyataan yang dipublikasikan melalui beragam media yang memiliki makna
dan terdapat konteks di dalamnya dapat dikatakan sebagai sebuah wacana. .
Berdasarkan jenis
wacana dapat ditinjau dari media yang digunakan seperti media wacana lisan dan wacana tulis. Berdasarkan sifatnya seperti
wacana transaksional dan wacana
interaksional. Berdasarkan langsung atau tidak langsungnya
(Kridalaksana 1984 : 208). Berdasarkan Wacana
prosa, puisi, dan drama. Dari segi Penutur
(Jumlah Penutur) ada wacana monolog, wacana dialog dan
wacana polilog. Berdasarkan cara pemaparannya ada wacana naratif,
wacana prosedural, wacana hotatori, wacana Ekspositori dan wacana deskripsi.
3.2 Kritik dan Saran
Wacana mungkin sangat sulit untuk dipahami untuk seorang pemula. Wacana
memiliki banyak bentuk dan jenis sehingga sulit untuk membedakan antara yang
satu bentuk dengan bentuk yang lainnya. Namun begitu pentingnya sebuah wacana
yang membuat seseorang harus mampu memahami sebuah wacana mulai dari beragan
bentuk dang fungsi tersendiri dari wacana tersebut. Karena mengetahui maksud
yang terkandung dalam sebuah wacana itu sangat menguntungkan dalam ilmu
pengetahuan seseorang dalam menilai sebuah wacana, permasalahan yang terkandung
dan tersirat didalam sebuah wacana tersebut.
Sebagai seorang mahasiswa dituntut untuk lebih dalam mempelajari mata kuliah
Bahasa Indonesia. Karena dengan itu dapat menambah wawasan kita. Misalnya dalam
pembuatan suatu wacana,agar kita tidak keliru lagi dalam memaknai sebuah wacana yang
didalamnya terdapat banyak maksud-maksud tersembunyi. Dan
juga lebih memahami unsur-unsur
wacana dan kaidah penulisan yang ada dalam sebuah wacana.
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, B. (2014, Maret). Ciri dan Macam Bentuk
Wacana. Retrieved Maret 7, 2017, from blognyazwar.blogspot.co.id: http://blognyazwar.blogspot.co.id/2014/03/ciri-ciri-dan-macam-macam-bentuk-wacana.html
Charmilah. (2012, 12). Hakikat Wacana Bahasa Indonesia.
Retrieved Maret 6, 2017, from Charmilah:
http://charmilah.blogspot.co.id/2012/12/hakikat-wacana-bahasa-indonesia.html
Darojah, R. U. (2014, Januari 26). Manfaat Kajian Wacana
Dalam Konteks Indonesia . Retrieved Maret 13, 2017, from
ridanumidarojah.blogspot.co.id:
http://ridanumidarojah.blogspot.co.id/2014/01/manfaat-kajian-wacana-dalam-konteks.html
Hestunodya. (2014, Januari). PENGERTIAN WACANA MENURUT
PARA AHLI. Retrieved Maret 6, 2017, from hestunodya.blogspot.co.id:
http://hestunodya.blogspot.co.id/2014/01/pengertian-wacana-menurut-para-ahli.html
Maifandi, I. (2012, Agustus 5). ANALISIS WACANA.
Retrieved Maret 7, 2017, from Ikrimah Maifandi:
https://ikrimahmaifandi.wordpress.com/2012/08/05/analisis-wacana/
Punyashellya. (2013, Juni 02). Wacana – Bahasa
Indonesia. Retrieved Maret 13, 2017, from punyashellya.wordpress.com:
http://punyashellya.wordpress.com/2013/06/02/wacana- bahasa-indonesi/
UNY. (n.d.). Wacana dan Teks. Retrieved Maret 7,
2017, from uny.ac.id: http://eprints.uny.ac.id/8341/3/BAB%202-06204241001.pdf
Vendrafirdina. (2008, Juli 28). makalah-bahasa-indonesia. Retrieved April 04, 2017, from Vendrafirdina: https://vendrafirdian.wordpress.com/2008/07/28/makalah-bahasa-indonesia/
Wikipedia. (2017, Maret 25). Narasi. Retrieved April 04, 2017, from
https://id.wikipedia.org/wiki/Narasi
[1] Charmilah,Hakikat Wacana
Bahasa Indonesia, http://charmilah.blogspot.co.id/2012/12/hakikat-wacana-bahasa-indonesia.html,
diakses 6 Maret 2017, jam 18.30 WIB.
[2] Hestunodya,Pengertian Wacana
Menurut Para Ahli, http://hestunodya.blogspot.co.id/2014/01/pengertian-wacana-menurut-para-ahli.html,
diakses 6 Maret 2017, jam 19:00 WIB.
[3] Azwar, Ciri dan Macam Bentuk
Wacana, http://blognyazwar.blogspot.co.id/2014/03/ciri-ciri-dan-macam-macam-bentuk-wacana.html, diakses 7 Maret 2017, jam 19:30 WIB.
[4]
Vendrafirdina, Makalah-bahasa-indonesia, https://vendrafirdian.wordpress.com/2008/07/28/makalah-bahasa-indonesia/
diakses pada 04 April 2017 pukul 12:17
[6] Punyashellya, Wacana-Bahasa Indonesia, https://punyashellya.wordpress.com/2013/06/02/wacana-bahasa-indonesia/, diakses 13 Maret 2017, pukul 23:01 WIB.
[7] UNY, Wacana dan Teks, http://eprints.uny.ac.id/8341/3/BAB%202-06204241001.pdf,
diakses 7 Maret 2017, jam 20:00 WIB.
[8] Ikrimah Irfandi, Analisis
Wacana, https://ikrimahmaifandi.wordpress.com/2012/08/05/analisis-wacana/,
diakses 7 Maret 21:00 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar