Mengelola
Keuangan Sejak Dini
Nama : Ratih Risdiana
NIM : 02011181621113
NIM : 02011181621113
“Orangtua
yang cerdas, dapat memberikan pendidikan mengenai penggunaan uang sejak usia
dini pada anak. Sehingga orangtua tidak membuat kesalahan dengan mencetak
bibit-bibit koruptor baru. Membuat Negara Indonesia merugi sebesar Rp203,9
Triliun”
Keluarga tempat dimana dasar dan lingkungan alamiah
membentuk pertumbuhan dan kesejahteraan semua anggota, terutama pada anak. Keluarga
harus memberikan perlindungan dan bantuan sedemikian rupa agar anak merasa
nyaman untuk membentuk perkembangan dan kepribadian. Anak harus tumbuh dan berkembang dengan lingkungan
keluarga dalam suasana penuh kebahagiaan, cinta dan pengertian yang seutuhnya
dari orangtua.
Orangtua memberikan perlindungan dan bantuan kepada
anak agar tidak salah dalam mengambil langkah untuk masa depan. Kesalahan yang
sering dilakukan orangtua dalam mendidik anak adalah tidak memberi pendidikan
tentang keuangan pada anak sejak dini. Sehingga meningkatkan peluang anak
tumbuh dewasa minim pengetahuan pengelolaan keuangan dengan benar. Disini peran
orangtua dalam mencetak bibit-bibit koruptor saat anak tumbuh dewasa tanpa
pengetahuan mengelolaan keuangan dengan benar.
Anak bisa belajar tentang uang dari berbagai sumber,
seperti media cetak dan elektronik,
teman-teman, lingkungan sekitar dan sebagainya. Jika yang dipelajari anak benar
dari sumber tersebut bagaimana cara mengelola uang, maka akan berdampak baik
untuk masa depan anak. Dan jika sebaliknya, anak salah dalam memahami cara
mengelola uang, maka akan berdampak buruk bagi pemikiran anak mengenai uang
saat dewasa.
Pemikiran anak yang salah mengenai uang, akan membuat
anak menggunakan uang dengan boros dan tidak terkendali. Jika anak terus-menerus menggunakan uang dengan boros akan memicu pola
pikir anak untuk mendapatkan uang yang lebih, lebih dan lebih banyak lagi.
Sehingga anak berpikir bagai mana cara membeli semua barang yang diinginkan.
Hal ini membuat anak cenderung akan melakukan korupsi jika telah dewasa dan
memiliki pekerjaan, sedangkan jika masih
dalam tanggungan keluarga akan berusaha mencuri harta kekayaan keluarga sendiri.
Disinilah peranan orangtua dalam melindungi anak
mulai berperan. Sebagai orangtua harus memberikan pemahaman mengenai penggunaan
uang pada anak, untuk melindungi anak agar tidak terlibat tindak korupsi. Jika
orangtua dan anak menjalin komunikasi yang harmonis maka anak akan bertanya
pada orangtua, jika sedang kebingungan menggunakan uang. Namun jika orangtua
dan anak gagal dalam menjalin komunikasi. Anak merasa bingung harus bertannya
pada siapa, jika sedang kesulitan menggunakan uang.
Kegagalan menjalin komunikasi akan membuat anak
tidak menghargai uang, suka menghambur-hamburkan uang untuk tujuan
bersenang-senang dan hidup konsumtif. Perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan
hingga dewasa. Saat uang mulai menipis akan meningkatkan peluang selalu
kesulitan dalam keuangan. Anak akan berpikir bagaimana cara kembali
keperilakunya yang dulu, hidup dalam kemewahan. Sehingga membuat anak melakukan
tindak korupsi hanya untuk memenuhi kebutuhan yang salah. Hal ini terjadi
karena tidak ada yang memberi pemahaman mengenai fungsi uang pada anak.
Melalui diskusi orangtua dapat memberikan pendidikan
keuangan pada anak. Memperkenalkan arti uang pada anak, selain sebagai alat
untuk menukar barang atau urusan jual-beli. Orangtua diharapkan memberikan
makna lebih beratri dari nilai uang, misalnya
sebagai alat untuk bersedekah dan membantu sesama akan mendapatkan pahala.
Orangtua yang bijak akan menjelaskan pada anaknya, darimana dan bagaimana cara
mendapatkan uang. Sehingga anak tidak hanya tahu dapat uang dari orangtua,
namun tahu bagaimana orangtua mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya. Hal
ini diharapkan anak lebih menghargai jerih payah orangtuanya dengan cara
menghemat penggunaan uang yang diberikan.
Saat anak menginginkan sesuatu, orangtua harus
memberikan pemahaman pada anak barang
mana yang lebih dibutuhkan diantara semua barang yang diinginkan. Sehingga
mengajarkan anak, untuk membeli barang yang diperlukan saja. Selain itu,
orangtua harus memberitahu pada anak apa manfaat dari barang yang dibeli. Agar anak
mengetahui fungsi dan peran dari barang yang dibeli sehingga tidak salah
penggunaan. Orangtua juga harus mengajarkan pada anak untuk membeli barang yang
tidak terlalu mahal, agar anak bisa mengatur pengeluaran dengan belajar hemat.
Dalam hal ini, Orangtua dapat mengajarkan pada anak neraca
keuangan, untuk mengasah ketajaman anak dalam membedakan nilai barang,
pengeluaran uang dan kegunaan dari uang. Sebagai apresiasi orangtua kepada anak
yang telah berhasil mengelola keuangan, bisa memberikan sedikit pujian dan
hadiah kecil pada anak. Jika anak telah berhasil menerapkan hidup hemat dan
menghargai uang, sebagai motivasi anak untuk terus hidup hemat dan mengelola
keuangan dengan lebih baik lagi.
Peran orangtua memberikan pengetahuan mengelola uang
yang benar akan membuat anak tumbuh menjadi dewasa dan berpeluang bebas dari
sifat korup. Anak akan membentuk karakter positif, karena anak memiliki sikap
tanggung jawab pada keuangan. Selanjutnya anak akan semakin berpengetahuan dan
ahli dalam merespon informasi keuangan sehingga dapat menentukan keputusan
keuangan yang benar. Hal ini tidak terlepas dari peran orangtua terhadap
mendidik anak dalam mengelola keuangan. Namun hubungan antara orangtua dan anak
harus terjalin harmonis, sehingga anak merasakan perhatian yang penuh dari
orangtua dan tidak merasa canggung untuk menanyakan suatu masalah. Sehingga
orangtua tidak akan menciptakan bibit-bibit koruptor baru, melainkan akan
menciptakan generasi emas bagi bangsa dan negara.(arts)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar